Inception: Keluar Kotak, Melihat Kotak

web-pdbtng

potret pendidikan/2003

Banyak cerita-cerita menggugah; memberi inspirasi baik berupa film;cerpen;novel; maupun berita-berita di media massa mengenai tokoh-tokoh inspirasi di Indonesia. Kisah-kisah perjuangan dalam mengabdi pada pendidikan; memberdayakan ekonomi masyarakat kecil; memperjuangkan hak rakyat; peduli dan berbagi antar sesama dan seterusnya. Sebuah contoh kisah Bu Een yang satu bulan ini sangat santer diberitakan media atas jasanya mengabdi pada pendidikan selama 30 tahun, padahal kondisi fisiknya tidak memungkinkan karena hanya berbaring saja. Kisah perjuangannya tentu saja patut ditiru dan menjadi inspirasi bagi kita yang sedang belajar untuk peduli terhadap sesama.

Saya yakin masih banyak kisah-kisah inspirasi yang lebih dekat dengan kehidupan kita; lingkungan kita bahkan terkadang luput dari pengamatan akibat terlalu dekat. Kita biasanya melihat yang jauh namun terlupa memperhatikan yang dekat. Satu cara yang paling mudah (menurut saya) adalah dengan keluar terlebih dahulu dari rutinitas kita; lingkungan kita dan duduk dari kejauhan mengamati seperti orang lain melihatnya.

Hari ini saya mendapat pengalaman baru setelah menonton film Inception, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan permulaan. Film thriller fiksi ilmiah Amerika Serikat tahun produksi 2000 ini disutradarai oleh Cristopher Nolan dengan bintang utama Leonardo D’caprio. Mengisahkan tentang Dom Cobb yang berusaha mengambil informasi dari korbannya dengan cara masuk ke dalam mimpi mereka dan menginsepsi pikiran para korbannya. Mimpi tersebut menjadi ruang bagi keseluruhan tim untuk menanamkan pemikiran tertentu ke dalam otak para korban dan menggunakan strategi dua tingkat mimpi (“mimpi dalam mimpi”) untuk mengekstrak informasi penting yang dibutuhkan.

9

Putri Jaya/2003

Apa yang saya dapatkan dari film Inception?

Pada awalnya cukup rumit memahami apa pesan yang ingin disampaikan oleh film ini, karena saya tidak menonton dari awal cerita dimulai. Potongan-potongan film yang saya tonton sambil tiduran ini akhirnya menyita perhatian saya setelah kilas balik beberapa bagian film mulai dapat memberi informasi tentang arah dari dialog-dialognya. Ya saya menemukan 2 kata kunci, yakni mimpi dan kenyataan. Manakah bagian realitas yang dapat kita katakan sebagai mimpi dan kenyataan? Jangan-jangan kenyataan hidup kita sebetulnya tidak riil? Karena kita terlalu banyak bermimpi!.

Saya jadi teringat tentang acara Republik Mimpi yang cukup berhasil menyita perhatian kala itu, acara parodi yang cukup menggugah bahwa kenyataan dari kehidupan masyarakat kita terlalu dinina-bobokan oleh media elektronik dengan sinetron-sinetron yang menjemukan.

Namun mimpi dalam tidur berbeda, karena mimpi ini jugalah yang dapat mengurai benang merah ingatan kita, percaya atau tidak percaya kita pernah mengalami bagian-bagian mimpi yang mengingatkan pada sesuatu dimasa lampau.

Ada hubungan erat antara fakta kehidupan dan mimpi yang mampir dalam tidur kita. Ini yang berbeda dengan mimpi yang dibangun pada saat kita terjaga, mimpi yang terkadang tidak disadari dan dirasakan dalam kehidupan nyata. Padahal kita telah banyak melakukannya dalam kehidupan sehari-hari, dengan film-film yang kita tonton di televisi; dengan buku-buku yang dikonsumsi anak-anak kita; dengan pergi ke mall-mall; dengan menganggap bahwa hasil karya anak bangsa masih kalah dengan karya dunia barat dan sebagainya. Kontruksi-konstruksi yang dibangun secara tidak sadar selama bertahun-tahun tentu saja akan memberikan “mimpi-mimpi” tentang hidup yang ideal menurut kita padahal belum tentu seperti itu kenyataannya. Bahwa kita telah dan masih terjajah oleh kapitalisme bangsa asing harus kita sadari untuk membangunkan kita dari “mimpi-mimpi” yang tidak lagi realistis. Kenyataan kemiskinan, ketimpangan ekonomi, pelanggaran hukum, ketertinggalan pendidikan dan seterusnya adalah kenyataan yang harus kita terima serta pahami bahwasanya bangsa Indonesia masih tertinggal. Artinya kita perlu belajar lagi bagaimana semestinya membangun mimpi yang baik, agar tetap terjaga menyadari realitas dan waktu yang terus berjalan sampai satu waktu kita tidak bisa mengelak atas “kematian”. Perlu hentakan berkali-kali dan skala besar untuk mengingatkan, seperti halnya bencana alam menghardik sikap kita atas kelestarian alam.

Mungkin…

 23/6/2013

3:36 AM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s