Relativisme Sosial

cermin identitas

cermin identitas/2004

Sebuah cara pandang

Relativisme terbagi ke dalam relativisme individual disebut subjektivisme dan relativisme sosial disebut konvensionalisme (Pojman:1990). Relativisme individual adalah bahwa setiap individu menentukan kaidah moralnya sendiri. Subjektivisme (istilah lain dari relativisme individual) memandang bahwa pilihan-pilihan individu menentukan validitas sebuah prinsip moral. Penegasannya adalah moralitas bersemayam di mata orang yang melihatnya (Shomali, 2005). Relativisme sosial adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa setiap masyarakat berhak menentukan norma-norma moralnya sendiri. Hal ini seperti dinyatakan (Donaldson, 1989) bahwa kebenaran moral hanyalah kesepakatan kultural di masyarakat. Konvensionalisme (istilah lain dari relativisme sosial) memandang bahwa prinsip-prinsip moral secara relatif benar, sesuai dengan kovensi budaya atau masyarakat tertentu. Nama lain dari relativisme sosial adalah Relativisme budaya  (Shomali, 2005).

Isu relativisme budaya (cultural relativism) baru muncul menjelang berakhirnya Perang Dingin sebagai respon terhadap klaim universal dari gagasan hak asasi manusia internasional. Gagasan tentang relativisme budaya mendalilkan bahwa kebudayaan merupakan satu-satunya sumber keabsahan hak atau kaidah moral. Karena itu hak asasi manusia dianggap perlu dipahami dari konteks kebudayaan masing-masing negara.

Di satu sisi, universalisme menyatakan bahwa akan semakin banyak budaya “primitif” yang pada akhirnya berkembang untuk kemudian memiliki sistem hukum dan hak yang sama dengan budaya Barat. Relativisme budaya, di sisi lain, menyatakan sebaliknya, yaitu bahwa suatu budaya tradisional tidak dapat diubah.

Pertarungan Wacana Global

Pengantar dalam teks relativisme sosial (budaya) dan universalisme diketengahkan sebagai bahan untuk memulai diskusi tentang relativisme sosial; tentang makna sosial; tatanan sosial dan kekhasan itu sendiri. Globalisasi semestinya tidak boleh mengintervensi kearifan lokal suatu tempat, seperti yang sering terjadi dalam fakta pembangunan sosial.

Kehidupan sosial disekitar kita memiliki banyak variable, nilai-nilai yang membentuk tatanan; sistem sosial berlaku. Terjadi kesepakatan sosial untuk kemudian menjaga kelangsungan sebuah sistem sosial dalam komunitas masyarakat. Sementara bagi masyarakat urban memiliki kehidupan yang cenderung  invidu dan telah meng-kebiri hasrat bersosial serta berkomunal, kepentingannya hanyalah ekonomi saja.

Target pemenuhan kebutuhan ekonomi dan hasrat bersosial merubah cara pandang konsep sosial di era kekinian. Hadirnya cara pandang baru dan sekaligus pertarungan wacana globalisasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s